Renegade Immortal Episode 016
Bab 16 - Murid
Di bawah tatapan sang elder, Wang Lin merasa seolah dirinya transparan, seakan sang elder dapat melihat segalanya.
Elder tersebut mengerutkan kening. Ia tak menemukan hal yang mencurigakan pada diri Wang Lin, lalu bertanya, “Wang Lin, kapan kau kembali?”
Jantung Wang Lin masih berdegup kencang akibat satu tatapan itu. Ia segera menjawab, “Murid ini kembali larut malam tadi. Pagi ini, saat hendak melakukan tugas harian, saudara Liu memberitahu bahwa Elder sedang mencariku.”
Wajah Elder Sun tampak muram. Tanpa sepatah kata pun, ia meraih Wang Lin. Dengan satu langkah, mereka menghilang dalam awan berwarna pelangi menuju kamar Wang Lin.
Perjalanan itu terlalu cepat. Wang Lin merasa seolah kehabisan napas, namun untungnya perjalanan tersebut berlangsung sangat singkat. Sesampainya di kamar Wang Lin, Elder Sun melempar Wang Lin ke samping lalu menyapu ruangan itu dengan Divine Sense-nya.
“Apa ini?” Elder Sun bergerak mendekati tempat tidur Wang Lin dan menemukan labu yang biasa digunakan Wang Lin untuk menyimpan air mata air.
Wang Lin tampak tenang di permukaan, namun di dalam hatinya muncul kegelisahan. Ia segera mencoba mencari kata-kata yang tepat.
Elder Sun meneliti labu itu cukup lama, lalu menoleh dan bertanya, “Wang Lin, apa yang kau simpan dalam labu ini?”
Wang Lin berpura-pura bodoh dan berkata, “Elder, labu ini berisi air mata air dari pegunungan. Airnya sungguh luar biasa. Setiap kali aku lelah, aku hanya perlu meminumnya sedikit dan langsung merasa segar kembali. Saat aku masih kecil, aku pernah membaca dalam sebuah buku bahwa segala sesuatu yang digunakan para immortal itu istimewa. Tak kusangka bahkan air mata air pun sehebat ini. Elder, jika Anda menginginkan air mata air ini, ada sepuluh tong besar di gudang penyimpanan. Setiap tong sebesar rumah. Semua air itu kuambil sendiri.”
Elder Sun membuka labu dan mengendus isinya. Ekspresinya seketika berubah, lalu ia berkata penuh semangat, “Siapa yang bertanya tentang air mata air? Cepat, katakan padaku dari mana kau mendapatkan labu ini!”
Wang Lin tercengang. Ia bertanya polos, “Elder, ada apa dengan labu ini? Aku menemukannya mengapung di sungai saat hendak mengambil air. Kupikir bentuknya cukup bagus, jadi kuambil.”
Elder Sun menyipitkan mata dan menatap Wang Lin dengan dalam. Ia menyentuh labu itu dan berpikir, “Labu ini mengandung spiritual energy dalam jumlah besar. Jika seorang mortal meminum air dari labu ini, meskipun mereka tidak mampu menyerap banyak spiritual energy, mereka tetap akan merasa segar. Sepertinya dia tidak berbohong. Labu ini sungguh sia-sia jika digunakan olehnya. Jika digunakan untuk membuat immortal pill, hasilnya pasti bagus.”
Ada kemungkinan besar bahwa kematian rumput biru dan bunga malam ungu berkaitan dengan labu ini. Mungkin mereka adalah musuh alami. Hal ini tidak bisa dipastikan tanpa pengujian lebih lanjut.
Menghentikan alur pikirannya, ekspresi Elder Sun berubah drastis. Ia menatap labu itu dengan seksama, lalu mengerutkan kening dan menatap dingin pada Wang Lin. “Wang Lin, kau benar-benar berani. Berani-beraninya berbohong pada seorang Elder? Sepertinya kau tak ingin tinggal di Sekte Heng Yue lagi!”
Wang Lin menunjukkan wajah bingung dan segera menjawab, “Elder, saya tidak berbohong. Memang benar ada sepuluh tong air mata air di gudang penyimpanan.”
Tanpa membiarkan Wang Lin menyelesaikan kalimatnya, Elder Sun tertawa marah dan berkata, “Masih berpura-pura polos? Aku sedang bertanya tentang labu ini! Labu ini tampak baru saja dipetik dari sulurnya. Wang Lin, akan kuberi satu kesempatan terakhir. Katakan padaku dari mana kau mendapatkan labu ini, atau akan kuusir kau dari Sekte Heng Yue hari ini juga!”
Wajah Wang Lin menunjukkan ekspresi marah, seolah siap berkonfrontasi, dan ia berseru, “Kalau pun aku diusir, lalu kenapa? Di Sekte Heng Yue ini, tugasku hanyalah mengambil air untuk mengisi sepuluh tong itu. Berkali-kali aku harus bertahan lebih dari seminggu tanpa makan. Kalau bukan karena ubi manis yang diberikan ibuku, aku sudah mati kelaparan. Ini bukan kultivasi, ini penyiksaan!”
“Aku bersusah payah mengambil labu itu dari sungai. Kalau Anda menginginkannya, ambillah saja. Mengapa menuduhku berbohong? Apa hubungannya sulur yang masih menempel dengan diriku? Mungkin saja ada orang yang memetiknya dan melemparnya ke sungai. Anda bertanya padaku, tapi aku harus bertanya pada siapa?”
Elder Sun memandangi sisa ubi manis itu, lalu menatap labu di tangannya. Ia berpikir sejenak dan membatin, “Meski aku menginginkan labu ini, merebut harta murid kehormatan lalu mengusirnya akan sangat memalukan. Jika hal ini tersebar, reputasiku akan hancur. Apalagi kalau anggota sekte lain tahu tentang labu ini, aku tak akan bisa mencegah mereka merebutnya. Anak ini masih menyembunyikan sesuatu. Pasti masih ada labu-labu lain sejenis. Jika aku bisa mendapatkannya semua, kemampuanku dalam membuat pill akan meningkat satu tingkat lagi.”
Menyadari hal itu, ia pun tiba-tiba berubah ekspresi dan berseru, “Kau benar-benar telah mengalami banyak kesulitan, anak muda. Aku tidak tahu kalau kau bahkan tidak makan selama seminggu. Sekarang setelah aku tahu, aku akan mengurus masalah ini. Meski hanya murid kehormatan, kau tetap murid Sekte Heng Yue!”
Setelah berkata demikian, ia melihat Wang Lin masih tampak marah. Ia tertawa dingin dalam hati, namun berkata dengan ramah, “Wang Lin, aku menginginkan labu ini, tapi aku ingin memperlakukanmu dengan layak. Bagaimana kalau kau menjadi asistennya aku?”
Wang Lin bergumam, “Aku tidak mau. Asisten itu sama saja dengan pelayan. Kalau ayahku tahu aku jadi pelayan, dia pasti akan menghajarku sampai mati.”
Elder Sun hampir kehilangan kendali. Ia ingin menghajarnya sebelum ayah Wang Lin sempat melakukannya. Meskipun ia berada di tingkat terbawah generasi kedua, jika ia menyatakan tengah mencari asisten, para murid kehormatan akan berlomba-lomba mendapatkannya.
Menahan amarahnya, ia membentak, “Baiklah! Akan kuterima kau sebagai muridku. Aku akan segera melapor pada patriark. Kau berkemaslah, lalu tunggu aku di taman kediamanku.” Setelah berkata demikian, ia berjalan keluar dari kamar Wang Lin. Dengan satu langkah, muncul awan yang membawanya langsung menuju patriark.
Setelah kepergiannya, ekspresi Wang Lin menjadi dingin. Ia mencibir dalam hati, “Orang tua ini punya niat terselubung. Di permukaan, ia menerimaku sebagai murid, tapi kenyataannya ia hanya menginginkan lebih banyak labu.”
Wang Lin memikirkannya sejenak, lalu tertawa kecil. Yang ia inginkan hanyalah beberapa labu. Di gunung masih banyak. Ia hanya perlu merendamnya dalam air bersama manik itu. Kini ada kesempatan untuk menjadi murid inti, ia harus memanfaatkannya untuk cultivate dengan benar.
Setelah berpikir demikian, ia menjadi sangat bersemangat. Ia berkemas, meninggalkan banyak ubi manis untuk Zhang Hu, lalu berjalan menuju kediaman Elder Sun.
Kali ini, ia tidak mengumumkan kedatangannya dan langsung memasuki halaman. Pemuda berbaju putih yang sedang duduk di atas pohon tidak menghentikannya. Ia sudah menerima kabar bahwa Elder Sun telah menerima Wang Lin sebagai murid. Pemuda itu tertawa sambil berkata pada dirinya sendiri, “Seorang master sampah menerima murid sampah. Sungguh sangat cocok.”
📚 Sebelumnya 🍔 Daftar Isi ➡️ Selanjutnya
Posting Komentar untuk "Renegade Immortal Episode 016"